Dapur MBG Jombang Klarifikasi Salah Teknis, Salah Beli & Singkong Masuk ke Adonan Beras

Dapur MBG Jombang Klarifikasi Salah Teknis, Salah Beli & Singkong Masuk ke Adonan Beras

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang merupakan program nasional pemerintah untuk meningkatkan gizi anak sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui, kini menjadi sorotan di Kabupaten Jombang. Program yang bertujuan menekan angka stunting serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia ini diduga belum berjalan optimal di beberapa titik pelaksanaannya.

Sejumlah wali murid mengeluhkan menu MBG yang disalurkan oleh Dapur SPPG Yayasan Pesantren Annajiyah 3 Jombang. Mereka menilai makanan yang diterima siswa tidak sesuai dengan standar gizi maupun nominal anggaran yang telah ditetapkan pemerintah.

Salah satu wali murid yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa kualitas menu yang diberikan kurang layak. Bahkan, menurutnya, sempat ditemukan buah dalam kondisi tidak segar sehingga dibuang oleh siswa.

“Menu MBG tidak sesuai, bahkan sempat ada buah yang busuk dan akhirnya dibuang anak-anak,” ujarnya kepada awak media.

Menindaklanjuti keluhan tersebut, perwakilan wali murid bersama awak media telah mendatangi pihak yayasan untuk melakukan klarifikasi. Mediasi pun sempat dilakukan antara pihak dapur MBG, perwakilan wali murid, serta pihak terkait yang hadir di lokasi.

Dalam pertemuan tersebut, pihak pengelola dapur disebut menyatakan kesanggupan untuk memperbaiki menu agar sesuai dengan standar gizi dan anggaran yang berlaku. Namun, beberapa hari setelah mediasi, wali murid mengaku tidak melihat adanya perubahan signifikan pada menu yang dikirim ke sekolah.

Kekecewaan pun dirasakan sejumlah orang tua siswa. Mereka berharap program yang seharusnya menjadi berkah, terlebih di bulan Ramadan, dapat benar-benar memberikan manfaat optimal bagi anak-anak.

Selain itu, dalam pertemuan kedua, perwakilan wali murid dan awak media mengaku sempat ditawari amplop oleh oknum yang berada di lokasi. Tawaran tersebut disebut sebagai bentuk pengganti biaya transportasi, namun ditolak oleh pihak media dan wali murid karena ingin menjaga independensi serta fokus pada perbaikan kualitas program.

“Kami hanya ingin menu MBG sesuai standar dan anggaran. Banyak anak yatim yang sangat antusias setiap kali pembagian MBG. Jika kualitasnya seperti ini, tentu sangat disayangkan,” ujar salah satu perwakilan wali murid.

Dengan mencuatnya persoalan ini, wali murid berharap pihak terkait, khususnya pengawas SPPG di Jombang, dapat melakukan evaluasi dan pembinaan terhadap pengelola dapur MBG agar pelaksanaan program berjalan sesuai ketentuan.

Awak media menyatakan akan terus memantau perkembangan kasus ini dan menyajikan informasi lanjutan sesuai fakta di lapangan.