Jenderal Iran Ancam AS: Perang Akan Jadi Pelajaran Keras bagi Trump

Jenderal Iran Ancam AS: Perang Akan Jadi Pelajaran Keras bagi Trump

Teheran – Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi, memperingatkan bahwa potensi perang baru dengan Amerika Serikat akan menjadi “pelajaran keras” bagi Presiden AS, Donald Trump.

Dalam pernyataannya yang dikutip media internasional pada Minggu (16/2/2026), Mousavi menegaskan bahwa Trump harus menyadari konsekuensi serius jika memilih jalur konfrontasi. Ia menyebut retorika presiden AS tersebut sebagai pernyataan yang ceroboh dan tidak pantas dilontarkan oleh seorang kepala negara.

Mousavi juga mempertanyakan konsistensi sikap Trump. Menurutnya, jika Washington benar-benar berniat memulai perang, tidak seharusnya secara bersamaan membuka wacana negosiasi.

Ketegangan kedua negara meningkat dalam beberapa bulan terakhir setelah Trump berulang kali mengancam akan mengambil tindakan militer terhadap Iran. Amerika Serikat dilaporkan telah memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah dengan mengerahkan kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln. Selain itu, Pentagon juga mengirimkan kapal induk USS Gerald R. Ford beserta ribuan personel tambahan, pesawat tempur, dan kapal perusak rudal ke kawasan tersebut.

Sebelumnya, pada akhir Januari, Trump menyatakan bahwa armada kapal perang tambahan sedang menuju wilayah sekitar Iran. Ia juga memperingatkan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan baru dapat memicu konsekuensi yang lebih berat dibandingkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu.

Di sisi lain, sejumlah organisasi anti-perang menilai bahwa konflik terbuka hanya akan membawa dampak bencana. Mereka merujuk pada perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni 2025, yang kemudian melibatkan Amerika Serikat, sebagai contoh eskalasi yang berisiko meluas.

Konflik tersebut bermula pada 13 Juni 2025 ketika Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target sipil, militer, dan fasilitas nuklir Iran. Serangan itu dilaporkan menewaskan sejumlah komandan senior serta ilmuwan nuklir Iran pada tahap awal operasi.

Meski ketegangan meningkat, jalur diplomasi masih berlangsung. Pada 6 Februari lalu, Iran dan Amerika Serikat menggelar putaran baru perundingan nuklir tidak langsung di Muscat, Oman. Putaran lanjutan pembicaraan dijadwalkan berlangsung di Jenewa pada Selasa mendatang, dengan Oman bertindak sebagai mediator dalam proses negosiasi tersebut.